Tugas Struktur 11

 

GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (GSCM)

Air Mineral dalam Botol Plastik 600 ml

Nama: Ariz Jaya Saputra
Program Studi: Teknik Industri
Mata Kuliah: Ergonomi
Tahun: 2026


1. Pendahuluan (Latar Belakang dan Pemilihan Produk)

Air mineral dalam botol plastik ukuran 600 ml merupakan salah satu produk minuman kemasan yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Produk ini memiliki rantai pasok yang panjang, mulai dari pengadaan bahan baku plastik berbasis fosil, proses produksi yang intensif energi dan air, hingga distribusi jarak jauh menggunakan moda transportasi berbahan bakar fosil. Selain itu, pada tahap akhir masa pakai, botol plastik berpotensi besar menjadi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), lingkungan perairan, atau laut apabila tidak dikelola dengan baik.

Laporan ini bertujuan untuk memetakan rantai pasok konvensional produk air mineral botol plastik 600 ml, mengidentifikasi dua titik kritis dampak lingkungan terbesar, serta mengusulkan tiga strategi perbaikan berbasis prinsip Green Supply Chain Management (GSCM) yang spesifik dan terukur.

 

2. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional

2.1 Pengadaan Bahan Baku (Sourcing)

Bahan utama kemasan adalah plastik PET (Polyethylene Terephthalate) yang umumnya berasal dari bahan bakar fosil (nafta/gas alam). Bahan pendukung meliputi tutup botol (HDPE), label, dan tinta.

2.2 Produksi/Manufaktur

Proses meliputi pembuatan preform dan blow molding untuk membentuk botol, pengolahan air (filtrasi, ozonisasi), pengisian (filling), pelabelan, dan pengemasan. Tahap ini memerlukan energi listrik, panas, serta air proses.

2.3 Logistik Masuk & Keluar (Inbound/Outbound)

Bahan baku diangkut ke pabrik menggunakan truk/kontainer. Produk jadi didistribusikan dari pabrik ke gudang distributor dan ritel menggunakan truk diesel.

2.4 Distribusi/Ritel

Produk disalurkan melalui distributor ke minimarket, supermarket, grosir, dan kanal HORECA hingga dibeli oleh konsumen.

2.5 Akhir Masa Pakai (End-of-Life)

Setelah dikonsumsi, botol umumnya dibuang sebagai sampah. Sebagian kecil dikumpulkan oleh pemulung atau bank sampah untuk didaur ulang, sedangkan sisanya berpotensi masuk TPA atau lingkungan.

 

3. Analisis Dampak Lingkungan

3.1 Identifikasi Titik Kritis

Titik Kritis

Contoh Masalah Lingkungan

Pengadaan Bahan Baku

Penggunaan plastik virgin berbasis fosil → emisi gas rumah kaca (GHG) dan ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan.

Logistik (Outbound)

Emisi CO₂ tinggi akibat penggunaan truk diesel jarak jauh dan tingkat muatan yang tidak optimal.

3.2 Pembahasan

Dua titik kritis utama pada rantai pasok konvensional air mineral botol plastik 600 ml adalah:
(1) Pengadaan bahan baku plastik virgin berbasis fosil yang menghasilkan emisi GHG dan meningkatkan ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan.
(2) Aktivitas logistik outbound yang menghasilkan emisi CO₂ signifikan karena penggunaan truk diesel, jarak distribusi yang panjang, dan tingkat muatan yang tidak selalu optimal.

 

4. Usulan Strategi Green Supply Chain Management (GSCM)

 

Prinsip GSCM

Deskripsi Strategi

Implementasi

Manfaat Lingkungan

Green Sourcing

Mengganti minimal 50% plastik virgin dengan rPET (recycled PET) pada botol.

Kemitraan jangka panjang dengan pemasok rPET; investasi teknologi pembersihan rPET; audit kualitas material.

Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, menurunkan emisi GHG, dan mengurangi beban landfill.

Green Logistics

Optimasi rute dan konsolidasi muatan; uji coba kendaraan rendah emisi (CNG/EV) untuk last-mile.

Penerapan software optimasi rute; peningkatan load factor; pilot project armada CNG/EV di kota besar.

Mengurangi emisi CO₂, konsumsi BBM, dan polusi udara.

Reverse Logistics

Program pengumpulan botol pascakonsumsi melalui kemitraan bank sampah dan skema insentif.

Penyediaan drop box di ritel; insentif poin/uang; kontrak offtake dengan industri daur ulang.

Meningkatkan tingkat daur ulang, mengurangi kebocoran plastik ke lingkungan, dan menutup siklus material.

 

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Penerapan GSCM pada produk air mineral botol plastik 600 ml berpotensi signifikan menurunkan dampak lingkungan, khususnya pada titik kritis bahan baku dan logistik. Strategi penggunaan rPET, optimasi logistik, serta penguatan reverse logistics dapat diterapkan secara bertahap dan terukur. Disarankan agar produsen menetapkan target kuantitatif (misalnya persentase rPET, penurunan emisi per liter, dan tingkat pengumpulan botol) serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

 

6. Daftar Pustaka

  1. Guide, V. D. R., & Van Wassenhove, L. N. (2009). The evolution of closed-loop supply chain research. Operations Research.
  2. Srivastava, S. K. (2007). Green supply‐chain management: A state‐of‐the‐art literature review. International Journal of Management Reviews.
  3. U.S. EPA. (2020). Advancing Sustainable Materials Management: Facts and Figures.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenungi Tantangan: Insinyur Industri di Era Produksi Berkelanjutan

Tugas Terstruktur 05

Tugas Kelompok